BIAYA JASA KSEI TERMURAH DI ASIA

Biaya kustodian dan settlement KSEI lebih murah dibandingkan jasa yang sama di negara lain Bagaimana perbandingannya?

Belakangan, muncul keluhan dari anggota bursa soal mahalnya biaya yang dibebankan KSEI untuk penyimpanan dan penyelesaian saham. Padahal, dibandingkan biaya jasa yang dikenakan lembaga kustodian dan penyelesaian di negara lain, fee yang dipungut KSEI cenderung lebih murah.

Menurut direktur KSEI, Benny Haryanto, pelaku pasar mungkin masih kaget karena ada biaya yang harus dikeluarkan dari kocek pelaku untuk menyelesaikan transaksi sahamnya. Anggota bursa lupa menghitung keuntungan yang lebih besar dengan adanya scripless. Bila dihitung secara total, fee yang dikenakan tak ada artinya dengan beban yang harus ditanggung pelaku saat perdagangan masih berbentuk fisik.

Sebagai contoh, dalam perdagangan fisik, bila perusahaan efek melakukan transaksi untuk enam saham senilai Rp 4,331 miliar, ia harus menyisihkan dana sebesar itu pada hari transaksi. Saham baru bisa diterima setelah T+4. Apabila transaksi T+0 dilakukan pada hari Senin, maka penyerahan saham dan dana dilakukan pada hari Jumat (T+4), broker beli baru menerima saham di T+5 pagi (Senin).

Artinya, uang broker akan menginap selama tiga hari. Bila dibungakan –dengan asumsi bunga bank 15 persen per tahun—, maka broker rugi Rp 5,413 juta selama tiga hari. Bandingkan dengan transaksi tanpa warkat. Anggota bursa tidak perlu mendepositkan uangnya lebih dulu, tetapi cukup membayar biaya pemindahbukuan transaksi Rp 20 ribu setiap transaksi. Biaya yang dikeluarkan untuk transaksi enam saham sebesar Rp 120.000. Jauh lebih murah dibanding penyelesaian transaksi fisik sebelumnya.

Ada tiga jenis biaya jasa layanan kustodian sentral yang dibebankan KSEI kepada emiten, dan tujuh jenis biaya yang harus dibayar pemegang rekening (anggota bursa dan bank kustodian). Biaya pendaftaran awal dipungut KSEI sebesar Rp 15 juta per emiten, dan biaya tahunannya sebesar Rp 10 juta.

 

 

Biaya itu jauh lebih murah dibanding biaya pendaftaran efek yang dibebankan lembaga kustodian Hongkong, sebesar Rp 5.315 per satuan kolektif saham (SKS). Bila satu emiten memiliki 100 juta lembar saham dengan satuan lot yang sama, 500 lembar, biaya yang harus dikeluarkan emiten itu menjadi 200 SKS dikali Rp 5.315, menjadi Rp 1,06 miliar. Sementara, di Singapura biaya pendaftaran efek dikenakan Rp 17 juta per kuartal.

Bedanya, di negara lain tidak ada biaya pelaksanaan tugas agen pembayaran. KSEI menetapkan biaya jasa agen pembayaran untuk instrumen obligasi sebesar Rp 2,5 – Rp 10 juta per periode pembayaran bunga obligasi.

Biaya yang dibebankan KSEI ke anggota bursa dan bank kustodian juga lebih murah dibanding negara lain. Di Singapura, ada maintenance fee yang dibebankan ke pemegang rekening sebesar Rp 147 ribu per kuartal, dan untuk sub account (investor) Rp 73.500 per kuartal. Di bursa Filipina, lembaga kustodian sentralnya menetapkan biaya maintenance fee untuk pemegang account dan sub account masing-masing Rp 50.000 per bulan. Sementara Malaysia, menetapkan biaya Rp 22.500 sebagai administrasi rekening per bulan.

Biaya penyimpanan yang ditanggung pemegang rekening juga tampak mencolok perbedaannya. KSEI hanya memungut custodian fee 0,005 persen per tahun dari nilai pasar efek. Sedangkan Hongkong menetapkan biaya Rp 34.000 per SKS dan di India mencapai 0,07 persen pada saat pertama mulai scripless, meskipun saat ini sudah tinggal 0,01 persen saja.

Dari transaksi bursa KSEI menerima 20 persen dari 0,03 persen transaction fee atau 0,006 persen masih lebih kecil dibandingkan India yang memperoleh 0,02 persen. Phillippines Central Depository memperoleh 0,0085 persen dari total transaksi.

"Artinya, keberadaan KSEI bukan untuk membebankan pelaku pasar, melainkan dalam rangka efisiensi pasar," ujar Benny.