PT Kliring Penjamin Efek Indonesia
 

'Trading limit'

mengendalikan

risiko perdagangan

tanpa warkat

'Trading Limit'

Menjaga Risiko

Perdagangan Efek

 

Sebagai lembaga kliring dan penjaminan, KPEI memiliki tugas yang cukup berisiko. Bayangkan, lembaga kliring dan penjaminan itu harus mengatur pergerakan efek dan dana hasil transaksi broker di bursa efek, dan menjamin tersedianya dana dan efek yang ditransaksikan tersebut.

Alhasil, KPEI harus memiliki pengendalian risiko yang baik. Pengendalian risiko tersebut diperlukan untuk menjamin penyelesaian transaksi bursa agar selesai tepat waktu, meredam potensi kerugian yang timbul akibat kegagalan partisipan, dan menanggulangi  kemungkinan risiko-risiko ekstrim yang akan mengganggu mekanisme pasar.

Salah satu perangkat pengendalian risiko yang diterapkan KPEI adalah trading limit.  Besarnya trading limit yang dikenakan bagi anggota bursa adalah 24 kali dari total agunan  bebas. Trading limit ini merupakan salah satu perangkat pengendalian risiko yang menggunakan pendekatan colateral atau agunan dalam perhitungannya.

Agunan yang dipersyaratkan oleh KPEI bagi anggota kliring (AK) terdiri dari agunan online dan offline. Yang termasuk dalam agunan online adalah uang dan atau efek yang terdapat dalam rekening agunan masing-masing AK di KSEI.

 

Dengan adanya trading limit, seluruh risiko dapat diminimalkan, setiap kewajiban yang muncul akibat transaksi di bursa akan diperhitungkan dari nilai agunan yang dijaminkan kepada KPEI.

jatuh tempo, maka KPEI yang berperan sebagai penjamin masih memiliki agunan untuk menutupi risiko perbedaan harga (market risk) yang mungkin timbul.  

Secara kasar agunan  yang saat ini ditetapkan oleh KPEI adalah sekitar 20-25% dari nilai transaksi jual dan beli setelah di netting. Dengan agunan sebesar itu apakah sudah cukup aman? Menurut Hoesen, Kepala Divisi Penjaminan KPEI, sebenarnya angka tersebut cukup memadai untuk saham-saham yang tergolong likuid namun sebaliknya terlalu kecil untuk saham-saham lainnya, dimana risiko fluktuasi harganya bisa jauh lebih tinggi dari itu dan belum tentu likuid pula. Oleh karena itu, menurutnya dalam waktu dekat KPEI akan melakukan penyesuaian besarnya agunan dan hair cut. Idealnya, masing-masing saham memiliki hair cut dan kebutuhan agunan yang berbeda

Mekanisme trading limit yang diterapkan KPEI akan terus menerus disempurnakan. Saat ini KPEI masih mengandalkan basis agunan (collateral based) dan belum mempertimbangkan kekuatan  modal  yang dimiliki Anggota Kliring (AK). Idealnya, menurutnya masing-masing AK akan memiliki profil risiko sendiri yang akan dinilai dari berbagai faktor, sehingga multiplier factor trading limit satu AK yang sangat sehat akan jauh lebih besar ketimbang kelas AK yang biasa-biasa saja. Ini sedang dipersiapkan dan akan diperkenalkan dalam waktu dekat.

 

Sedangkan agunan offline adalah agunan diluar uang dan efek yang ada di rekening agunan yaitu surat saham bursa, sertifikat deposito, serta bank garansi.   

Dengan adanya trading limit, risiko kegagalan penyelesaian dapat diminimalkan. Karena, setiap kewajiban yang muncul  akibat transaksi AK di bursa akan diperhitungkan dari nilai agunan yang dijaminkan kepada KPEI. Dengan demikian, bila AK gagal memenuhi kewajibannya kepada KPEI pada saat

 

3

previous page

next page